Sejarah Imam Ali AS (Bagian 5)

Keutamaan dan Keagungan Imam Ali AS

1- Kepahlawanan dan Pengorbanan

Ali bin Abi Thalib adalah sosok manusia yang sempurna dari semua sisi. Kebesarannya diakui oleh kawan maupun lawan. Tidak ada seorangpun yang dapat melukiskan keagungan dan keutamaannya.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa suatu hari Rasulullah SAW bersabda kepada Ali, “Wahai Ali tidak ada yang mengenal Allah dengan sebenarnya kecuali aku dan engkau. Tidak ada yang mengenalku dengan sebenarnya kecuali Allah dan engkau, dan tidak ada yang mengenalmu dengan sebenarnya kecuali Allah dan aku.”

Untuk itu, apa yang coba kami angkat dalam kesempatan ini, tak lain adalah upaya untuk mengenalkan sosok agung yang pernah ada di tengah umat Islam ini, sekaligus menghiasi pertemuan kita ini dengan nama Ali bin Abi Thalib. Sebab Rasulullah SAW pernah bersabda, “Menyebut Ali termasuk amal ibadah.”

Keutamaan pertama Imam Ali bin Abi Thalib adalah keberanian, kepahlawanan dan pengorbanannya dalam membela Rasulullah dan ajaran yang beliau bawa. Sejarah menyebutkan bahwa ketika berada di Mekah dan diboikot oleh Quresy, Rasulullah SAW bersama pamannya Abu Thalib dan keluarga besar Bani Hasyim tinggal di lembah atau Syiib Abu Thalib. Masa yang sulit itu berlangsung selama tiga tahun. Setiap malam, karena khawatir akan keselamatan Rasulullah SAW, Abu Thalib memerintahkan beberapa orang termasuk Ali untuk tidur di pembaringan Rasul, secara bergilir.

Malam ketika Nabi Muhammad SAW hendak pergi meninggalkan rumah menuju Madinah, beliau memerintahkan Ali untuk berbaring di tempat tidur Nabi dan mengenakan selimut beliau, padahal puluhan pemuda Arab sedang menunggu di luar dengan pedang terhunus untuk secara serentak menyerang rumah Nabi dan membunuh beliau. Pengorbanan Ali di malam itu disanjung oleh Allah dan diabadikan di dalam Al-Qur’an.

Ketika pasukan muslim yang berjumlah sedikit untuk pertama kalinya bertemu dengan pasukan kafir Quresy yang jumlahnya tiga kali lebih besar di Badr, Ali dengan keberanian dan kepahlawanan yang tertandingi berhasil menyungkurkan jawara-jawara kafir Quresy semisal Walid, Syaibah, Ash, Handhalah dan Naufal. Sejarah bahkan mencatat bahwa setengah dari 70 korban tewas di kubu pasukan Quresy, tersungkur setelah terkena sabetan pedang Ali.

Di Uhud, ketika pasukan kafir Quresy berhasil membuat barisan muslimin kocar-kacir, bahkan banyak yang melarikan diri, Ali tetap menyertai Nabi dan berperang dengan gigih di sisi orang yang ia cintai itu. Di tangan Ali-lah pasukan Quresy yang mengepung dan berusaha membunuh Nabi, berhasil dipukul mundur. Di medan yang penuh hiruk pikuk itu, luka-luka yang ada di sekujur tubuhnya, tidak membuat kendur semangat Ali untuk berkorban dan membela Rasulullah SAW. Di Uhud inilah terdengar suara Jibril yang memuji Ali dengan mengatakan, “Tidak ada pahlawan seperti Ali dan tidak ada pedang seperti Dzul Fiqar.”

Tahun kelima Hijriyah, di saat kaum kafir dengan pasukannya yang berjumlah besar mengepung Madinah dan tertahan karena benteng parit yang dibuat kaum muslimin, Ali menunjukkan kepahlawanan dengan melawan Amr bin Abdi Wadd, jawara Arab yang sangat ditakuti. Ketika kuda tunggangannya, berhasil melompati parit, dengan congkak, Amr menantang siapa saja yang berani bertarung dengannya. Tantangan itu ia ulangi tiga kali berturut-turut, dan tiga kali pula Ali menyatakan kesiapannya untuk menjawab tantangan itu. Rasul mengizinkan dan Ali berhasil memenggal kepala Amr setelah melalui pertarungan yang sengit.

Kisah kepahlawanan Ali terulang di Khaibar ketika beliau berhasil menundukkan benteng Khaibar yang paling kuat, padahal pasukan muslim telah dua kali gagal mendudukinya. Dalam perang itu, Marhab bin Abi Marhab, jawara Yahudi Khaibar tersungkur setelah pedang Ali memilah tubuhnya menjadi dua bagian. Padahal saat bertarung dengan Ali Marhab mengenakan pakian besi yang menutupi seluruh tubuhnya.

Di Hunain, ketiika pasukan muslimin yang berjumlah sepuluh ribu orang diserang secara mendadak oleh suku Hawazin dan sebagian besar dari mereka lari tunggang-langgang meninggalkan Nabi, Ali bersama segelintir orang tetap berada di sisi Rasulullah SAW. Tebasan pedang Ali yang menjungkalkan Abu Jarwal, pahlawan kaum kafir di Hunain, berhasil menyiutkan nyali musuh-musuh Rasulullah dan mengundang pasukan muslim yang lari untuk kembali menyusun barisan.

Apa yang disebutkan tadi hanyalah sedikit contoh dari kepahlawanan dan pengorbanan besar Ali bin Abi Thalib untuk agama Allah dan ajaran Rasulullah SAW. Tidak sedikit pujian yang disampaikan Allah dan Rasul-Nya dalam Al-Qur’an dan hadis mengenai pengorbanan Ali di jalan Allah ini.

2- Keluasan dan kedalaman Ilmu

Keutamaan Imam Ali as berikutnya adalah keluasan ilmu beliau. Sejak masa kanak-kanak, Ali selalu menyertai Rasulullah SAW ke manapun beliau pergi bahkan dalam sebuah ungkapannya, Imam Ali menyatakan bahwa beliau sering diajak Nabi SAW berkhalwat dan beribadah di gua Hira yang berada di luar kota Mekah. Imam bahkan menuturkan bahwa beliau merasakan kehadiran malaikat Jibril yang membawa wahyu untuk Nabi SAW di gua itu. Dengan menyertai Nabi, Ali menimba ilmu-ilmu ilahiyah dari manusia paling agung di dunia itu. Ali pernah mengatakan bahwa Nabi mengajarinya seribu macam ilmu yang masing-masing memiliki cabang seribu.

Di hadapan sahabat-sahabatnya, Nabi SAW berulang kali bersabda bahwa beliau adalah kota ilmu yang pintunya adalah Ali bin Abi Thalib as. Sabda Nabi ini dibenarkan oleh para sahabat yang menyaksikan sendiri betapa Ali adalah satu-satunya orang sepenninggal Nabi yang menjadi rujukan dalam berbagai hal. Bahkan para khalifah, khususnya khalifah Umar bin Khattab sering meminta pendapat Ali dalam memghambil keputusan. Lebih jauh Umar mengatakan, “Jika tidak ada Ali maka celakalah Umar.”

Pernyataan Ali yang meminta umat untuk bertanya kepadanya sebelum mereka kehilangan dirinya, adalah ungkapan yang diabadikan oleh para sejarawan dan ahli hadis. Ali dikenal sebagai bapak dari berbagai cabang ilmu. Abdullah bin Abbas yang dikenal sebagai guru besar tafsir Al-Qur’an sepanjang sejarah, adalah orang yang berguru kepada Ali. Abul Aswad Al-Duali, sasterawan besar Arab dan penyusun ilmu Nahwu adalah murid Imam Ali as. Bahkan, beliaulah yang memerintahkan dan menuntun Abul Aswad untuk menyusun ilmu Nahwu.

Kepada sahabat dekatnya yang bernama Kumail bin Ziyad, Imam Ali as pernah menjelaskan kemuliaan ilmu dibanding harta. Kemudian beliau menunjuk dadanya secara mengatakan, “Di sini terpendam ilmu yang sangat luas. Andai saja aku menemukan orang yang bisa menerimanya.”


About asyhadione

jusT an Ordinary man

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: