Sejarah Imam Ali AS ( Bagian 6 )

3- Kedermawanan

Imam Ali bin Abi Thalib as dikenal sebagai orang yang sangat dermawan bahkan di saat beliau sedang bergelut dengan kesulitan hidup sekalipun. Sering beliau memberikan makanannya kepada orang lain dan tidur dalam keadaan lapar. Perilaku Rasul yang sering mengganjalkan batu di perut beliau untuk menahan lapar karena lebih mementingkan orang lain, menjadi teladan baginya. Banyak Ayat Al-Quran yang turun memuji kedermawanan Imam Ali. Salah satu kisah termasyhur yang diabadikan oleh Al-Qur’an dan ditulis dengan tinta emas oleh para sejarawan adalah kisah turunnya surah Al-Insan.

Diriwayatkan bahwa suatu ketika, Imam Ali as dan keluarganya bernadzar akan berpuasa tiga hari setelah Allah memberikan kesembuhan kepada dua anaknya, Hasan dan Husein yang saat itu sedang sakit. Setelah keduanya sembuh, Imam Ali melaksanakan nadzar itu. Beliau bersama istri, dua anak dan bahkan pembantunya yang bernama Fidldlah menjalankan ibadah puasa tiga hari. Saat itu di rumah beliau hanya ada persediaan makanan yang sangat terbatas.

Hari pertama, ketika hendak berbuka puasa, seseorang mengetuk pintu rumah beliau. Imam Ali membuka pintu. Setelah mengucapkan salam, orang tersebut mengatakan bahwa dia adalah orang miskin yang sedang kelaparan. Mendengar penuturannya, Ali as memerintahkan untuk memberikan makanan yang telah tersedia kepada si miskin. Malam itu keluarga beliau hanya cukup berbuka dengan air.

Kejadian serupa terulang lagi. Pada hari kedua seorang anak yatim dan hari ketiga seorang tawanan datang meminta sekedah kepada keluarga suci ini. Imam Ali memberikan makanan itu kepada mereka. Kedermawanan Ali dan keluarganya ini di saat mereka sedang memerlukan, dipuji oleh Allah swt. Surat Al-Insan atau Ad-Dahr turun berkenaan dengan peristiwa ini.

Saat seorang pengemis meminta sekedah kepada orang-orang yang sedang berada di masjid Nabi, tidak ada seorang pun yang menaruh perhatian kepadanya. Ali yang sedang menunaikan salat sunnah di masjid, saat ruku’ mengulurkan tangannya kepada si peminta sedekah. Orang tersebut lantas mengambil cincin yang ada di jari Imam dan pergi meninggalkan masjid. Kejadian itu direkam dalam Al-Qur’an Al-Karim. Allah swt berfirman, “Sesungguhnya pemimpin kalian adalah Allah, Rasul dan orang yang beriman yang menunaikan salat dan membayar zakat saat sedang ruku’.”

Mengenai kedermawanan beliau, Muawiyah yang dikenal sebagai musuh Ali nomor satu, mengatakan, “Jika Ali memiliki dua buah rumah yang satu terbuat dari emas dan yang satu lagi terbuat dari kayu, dia akan bersedekah dengan rumah emas itu sampai tidak tersisa sedikit pun darinya.”

4- Kezuduhan

Keutamaan lain Imam Ali as adalah kezuhudan beliau. Sering Imam Ali menyatakan bahwa dirinya tidak akan bisa digoda oleh kemewahan dunia. Dalam sebuah riwayat disebutkan, bahwa Imam Ali mengatakan, “Wahai dunia, godalah orang selain aku. Aku telah menceraimu dengan tiga kali talak. Tidak mungkin engkau akan kembali kepadaku. Umurmu terlalu singkat dan kehidupanmu hina.”

Menu makanan Imam Ali setiap harinya hanya sekerat roti kering dengan garam atau cuka. Beliau tidak pernah membiarkan perutnya dipenuhi makanan atau minuman. Pakaian yang beliau kenakan terbuat dari kain kasar. Meski duduk sebagai khalifah dan memegang seluruh kekayaan negara atau baitul mal beliau tidak pernah tergoda oleh gemerlap dinar yang ada di dalamnya. Diceritakan bahwa ketika menghitung uang baitul mal untuk dibagikan kepada rakyat, beliau bersujud kepada Allah sebagai tanda syukur karena tidak tergoda oleh harta yang ada di hadapannya.

Suatu kali, ketika Ali mengerahkan pasukan ke Basrah untuk memadamkan fitnah perang Jamal, sekelompok jemaah haji mendirikan kemah di dekat kemah pasukan beliau. Mereka ingin bertemu dengan khalifah. Ibnu Abbas yang meruapakan salah seorang sahabat dan murid dekat Imam Ali bergegas memberitahu beliau. Saat itu Imam sedang menjahit sepatunya. Setelah selesai, sambil menunjuk ke arah sepatu itu, beliau bertanya kepada Ibnu Abbas, berapa harga sepasang sepatu ini?

Ibnu Abbas menjawab harga sepatu yang sudah kumal seperti ini tidak lebih dari setengah Dirham. Imam Ali as mengatakan, “Demi Allah, sepatu ini jauh lebih berharga bagiku dibanding jabatan khilafah, kecuali jika dengan khilafah ini aku dapat menegakkan keadilan dan menumpas kebatilan.”

5- Taqwa dan Keimanan yang Tinggi

Imam Ali bin Abi Thalib as juga dikenal sebagai orang yang banyak beribadah. Malam hari merupakan saat yang paling indah bagi beliau untuk bermunajat dan berkeluh kesah dengan Tuhannya. Ketika sedang menunaikan salat tidak ada apa pun yang dilihatnya kecuali kemuliaan dan keagungan Allah swt. Diceritakan bahwa pada suatu malam di saat perang Shiffin berkecamuk, Imam Ali as tenggelam dalam kekhusyukan ibadah. Mendadak sebuah panah menerjang dan menancap di kaki beliau. Sahabat beliau yang menyaksikan kejadian itu, menarik anak panah tersebut ketika Imam sedang dalam keadaan salat. Karena kekhusyukannya, Imam Ali tidak merasakan sakit saat anak panah itu menancap kemudian dicabut dari kakinya.

Munajat dan doa-doa yang diajarkan Imam Ali kepada para sahabatnya telah dibadaikan dalam buku-buku riwayat Islam. Doa-doa itu mengandung makna yang sangat dalam dan mengajarkan bagaimana tata krama dan cara seorang hamba berdoa dan bermunajat dengan sang Khaliq. Imam Ali juga mengajarkan bagaimana hendaknya seorang pecinta sejati melantunkan pujian kepada Tuhannya. Bahkan Imam Ali Zainal Abidin yang sepanjang sejarah dikenal sebagai orang yang paling banyak beribadah mengatakan, “Tidak ada seorangpun yang bisa menandingi ibadah Ali bin Abi Thalib as.”



About asyhadione

jusT an Ordinary man

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: