Kisah dari tafsir surat Al-Buruuj

Ini diambil dari surat Al-Buruuj, surat yang ke-85 diturunkan di Mekkah yang terdiri atas 22 ayat. Dalam kisah ini mengambil 10 ayat pertama dari surat Al-Buruuj tersebut. Sumber diambil dari buku Ringkasan Ibnu Katsir jilid yang ke-4, disini saya sertakan photo dari halaman yang terdapat dalam buku tersebut. Berikut adalah terjemahan dari Surat Al-Buruuj 1-10:
“1. Demi langit yang mempunyai gugusan bintang, 2. dan hari yang dijanjikan, 3. dan yang menyaksikan dan yang disaksikan. 4. Binasa dan terlaknatlah orang-orang yang membuat parit, 5. yang berapi (dinyalakan dengan) kayu bakar, 6. ketika mereka duduk di sekitarnya, 7. sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman. 8. Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mu’min itu melainkan karena orang-orang mu’min itu beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji, 9. Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu. 10. Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mu’min laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat, maka bagi mereka azab Jahannam dan bagi mereka azab (neraka) yang membakar.”

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dengan sanadnya dari Suhaib bahwa Rasulullah saw: bersabda, “Ada seorang raja pada umat sebelum kamu. Dia mempunyai seorang penyihir setia. Ketika usia penyihir semakin senja, dia berkata kepada Raja: ‘Usiaku sudah tua dan kematianku hampir tiba, pertemukanlah aku dengan seorang muda hingga aku ajarkan kepadanya ilmu sihirku.’ Raja itu pun segera mempertemukannya dengan seorang muda belia pesanannya dan diajarinya ilmu sihir. Namun disamping penyihir dan raja masih ada seorang rahib. Pemuda itu suka datang kepada rahib, dia mendengarkan ucapannya sehingga membuatnya kagum. Bila dia datang kepada penyihir, dia dipukul sambil ditanya, ‘Apa yang membuat kamu tidak datang belajar?’ Dan bila kembali pulang bertemu keluarganya, mereka memukulnya, ‘Apa yang membuat kamu tidak pulang?’ Dia adukan hal itu kepada rahib. Rahib memberikan jalan keluar dan berkata, ‘Bila penyihir
itu hendak memukulmu, katakanlah kepadanya, ‘keluargakulah yang telah membuat aku tidak datang belajar.’ Dan bila keluargamu hendak memukulmu, maka katakanlah, ‘Aku belajar kepada penyihir itu hingga aku tidak pulang.’
Pada suatu hari, dia mendapati seekor binatang yang sangat mengerikan dan besar sehingga membuat orang-orang takut. Lalu dia mengambil batu dan berkata, ‘Ya Allah jika perintah rahib itu yang lebih Engkau cintai dan restui daripada penyihir, maka bunuhlah binatang ini sehingga orang-orang dapat melewati jalan.’ Kemudian dia melemparnya dengan batu dan binatang itu mati dan orang-orang dapat berlalu. Dia ceritakan hal itu kepada rahib, lalu ia mengatakan, ‘Hai anakku, engkau lebih utama dariku. Engkau akan mendapatkan ujian. Bila hal itu terjadi, janganlah engkau memberi tahu bahwa aku gurumu.’ Pemuda itu ditakdirkan menjadi seorang ahli mengobati penyakit sopak, lepra, dan penyakit-penyakit lainnya. Kebetulan ada seorang ajudan raja yang buta. Dia mendengar tentang kepiawaian pemuda tadi. Segera dia menemuinya dengan membawa hadiah-hadiah yang sangat banyak. Dia berkata, ‘Sembuhkanlah aku, engkau boleh mengambil semua yang aku bawa ini.’ Dia menjawab, ‘Aku tak pernah menyembuhkan seseorang pun. Yang menyembuhkan mereka hanyalah Allah saja. Bila engkau beriman kepada-Nya maka aku akan berdo’a kepada Allah sehingga Dia akan menyembuhkannmu.’ Lalu ajudan itu beriman, pemuda pun berdo’a kepada Allah, dan Allah berkenan menyembuhkannya.
Kemudian ajudan itu datang menjumpai raja, duduk di dekatnya sebagaimana yang dilakukan sebelumnya. Raja bertanya, ‘Hai Fulan, siapa yang telah membuatmu dapat melihat kembali?’ Dia menjawab, ‘Tuhanku.” Tanya Raja, ‘Aku?’ Ajudan itu menjawab, ‘Bukan, tetapi Tuhanku dan Tuhanmu, Allah.’ Raja bertanya, ‘Engkau mempunyai Tuhan selain aku?’ Ajudan menjawab, ‘Benar. Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.” Semenjak itu, tidak hentinya dia disiksa sehingga dia memberitahukan pemuda yang telah mendoakannya. Dia dijemput untuk menghadap raja. Katanya, ‘Hai pemuda, sihirmu dapat menyembuhkan penyakit sopak, lepra, dan penyakit-penyakit seperti ini?’ Pemuda tadi menjawab, ‘Aku tidak pernah menyembuhkan seorang pun. Yang menyembuhkan hanya Allah.’ Raja tadi bertanya, ‘Aku?’ Jawab pemuda , ‘Bukan.’ Tanya raja, ‘Engkau punya Tuhan selain aku?’ Jawab pemuda, ‘Tuhanku dan Tuhanmu adalah Allah.’ Maka
dia disiksa terus-menerus sampai memberitahukan gurunya. Rahib dijemput untuk menghadap raja. Katanya, ‘Tinggalkanlah agamamu itu!’ Namun, dia tidak mau. Dia kemudian meletakkan gergaji di pertengahan kepalanya sehingga belahan tubuhnya jatuh ke tanah. Dia berkata kepada orang buta tadi, ‘ Tinggalkanlah agamamu.’ Namun dia menolak. Dia segera meletakkan gergaji di pertengahan kepalanya dan kedua belahannya jatuh ke tanah. Lalu berkata kepada pemuda, ‘ Tinggalkanlah agamamu.’ Namun, dia menolak. Kemudian dia dibawa pergi oleh beberapa orang ke gunung ini dan itu. Katanya,’ Bila kalian telah sampai puncak gunung, bila dia meninggalkan agamanya, maka biarkanlah dia, namun bila tidak, maka gulingkanlah dia.’ Mereka pun pergi bersamanya. Tatkala telah sampai di puncak gunung, dia berdoa. ‘Ya Allah, selamatkanlah aku dari mereka menurut kehendak-Mu.’ Kemudian gunung itu bergoncang, menggetarkan mereka, lalu mereka semua-nya terguling.
Pemuda tadi datang lagi menghadap raja. Penasaran, raja bertanya, ‘Apa yang telah terjadi dengan pengawalmu?’ Dia menjawab, ‘Allah telah menyelamatkan aku dari mereka.’ Kemudian raja mengutus beberapa orang untuk membawanya dalam perahu. Katanya, ‘Bila kalian telah sampai di tengah lautan, bila dia kembali dari agamanya, maka biarkanlah dia, bila tidak maka tenggelamkan dia.’ Ketika mereka telah sampai di tengah lautan, pemuda tadi kembali berdoa, ‘Ya Allah, selamatkanlah aku dari mereka menurut kehendak-Mu.’ Mereka semua akhirnya tenggelam.
Pemuda itu datang lagi menghadap raja. Lalu ditanya, ‘Apa yang terjadi dengan para pengawalmu?’ Jawab Pemuda, ‘Allah telah menyelamatkan aku dari mereka.’ Kemudian dia berkata kepada raja, ‘Anda tidak dapat membunuhku kecuali bila anda melaksanakan perintah saya. Bila anda melaksanakannya maka anda bisa membunuh saya, bila tidak sampai kapan pun anda tidak dapat membunuh saya.’ Tanya raja, ‘Apa itu?” Jawab pemuda , ‘Anda kumpulkan umat manusia pada satu lapangan. Kemudian, anda salib saya di batang pohon kurma, lalu anda ambil panah dari tabung kepunyaanku, setelah itu ucapkanlah, ‘Dengan nama Allah, Tuhan pemuda itu.’ ‘maka bila anda melakukannya, anda pasti dapat membunuh saya.’ Raja segera melaksanakannya, kemudian meletakkan panah pada busur kepunyaannya, lalu mengatakan, ‘Dengan nama Allah, Tuhan pemuda itu.’ Panah itu melesat tepat mengenai pelipisnya. Lalu pemuda itu memegang anak panah dan mati. Ketika itu orang-orang yang menyaksikan ramai-ramai mengatakan, ‘Kami
beriman kepada Tuhan pemuda itu.’ Lalu dikatakan kepada raja, ‘Tidakkah anda saksikan apa yang selama ini anda khawatirkan? Demi Allah, sesungguhnya hal itu telah terjadi. Semua orang beriman kepada Allah.’ Raja memerintahkan untuk menggali tanah, lalu dibuat menjadi beberapa parit, lalu menyalakan api disana. Dia berkata, ‘Barangsiapa yang kembali kepada agamanya, maka biarkanlah orang itu, bila tidak, masukkanlah dia kesana.’ Mereka semua dipaksa dan didorong masuk kesana. Datanglah seorang wanita dengan anak yang masih disusuinya, seolah-olah ia ragu-ragu masuk kedalam api, namun anaknya berkata, ‘Bersabarlah engkau wahai ibuku! karena sesungguhnya engkau dalam kebenaran.’”
Cerita diatas diriwayatkan pula oleh Imam Muslim di akhir kitab Shahih-nya dari Hadbah bin Khalid dari Hammad bin Salamah. Demikian pula Imam Nasa’i meriwayatkannya secara ringkas. Hadits ini dinilai baik oleh Abu Isa Tirmidzi. Dikatakan bahwa raja tersebut bernama Dzu Nuwas. Negerinya adalah Najran. Para penduduknya itu telah masuk agama Nasrani. Sedangkan, Dzu Nuwas sendiri menganut agama Yahudi bersama para penduduk Yaman yang sama-sama menganutnya. Dan, Karena mereka berpindah kepada agama Nasrani, dia pun segera membakar mereka didalam parit sehingga hanya dalam satu waktu pagi saja telah terbunuh sebanyak 20.000 orang. Tidak ada yang selamat kecuali satu orang, namanya Duz Dzu Tsa’laban. Dia berlari menunggang kuda dan dibuntuti oleh mereka, namun tidak terkejar. Dia pergi menghadap Kaisar, Raja Rum. Lalu menulis surat kepada Najasyi, Raja Habsyi. Dia segera mengirim bala tentara Nasrani Habsyi, akhirnya mereka menaklukkan kota Yaman dari penguasaan orang-orang Yahudi. Kendali kekuasaan tetap berada di tangan mereka sampai 70 tahun, kemudian ditaklukkan lagi oleh Saif bin Dzi Yazan warga Nasrani, ketika dia meminta bantuan kepada Kisra, Raja Persia. Dan, tampuk kekuasaan kembali ke tangan Himyar.
Allah Ta’ala berfirman, ‘Sesungguhnya orang-orang yang mendatangkan cobaan kepada orang-orang yang mukmin laki-laki dan perempuan,” dengan membakar mereka, “kemudian mereka tidak bertobat,’ tidak meninggalkan kebiasaan mereka dan tidak menyesali perbuatan mereka, “maka bagi mereka azab jahannam dan bagi mereka azab yang membakar,” hal itu karena balasan Allah sesuai dengan jenis perbuatan yang telah dilakukan. Hasan Basri mengatakan, “Perhatikanlah kemurahan dan kedermawanan ini.
Mereka telah membunuh para wali-Nya, sedangkan Dia mengajak mereka untuk bertobat dan memohon ampunan. Maha Suci Engkau, ya Allah. Betapa pemurah dan lemah lembutnya Engkau.

Catatan:
Peristiwa Saif bin Dzi Yazan ini terjadi setelah kepulangan Abrahah al-Habsyi dari usahanya memerangi Baitullah, setelah pasukannya porak-porakda. Kematian mereka semua diakibatkan oleh perbuatan burung Ababil, sedangkan kematian Abrahah adalah sebagai akibat dari lemparan burung Ababil juga, hanya tidak mati saat itu. Kemudian tampuk pemerintahan dipegang oleh putranya, Yaksum. Kemudian oleh putranya, Masruq. Kemudian, Saif bin Dzi Yazan Al-Himyari pergi menuju kepada Kisra untuk menaklukkan Habasyah. Dan, mereka pun bertempur dengannya sehingga Allah mengembalikan negeri mereka ke tangannya. Leluhur mereka tiada yang memiliki kerajaan. Lalu datanglah para utusan bangsa Arab memberikan ucapan selamat dari segala penjurunya.







About asyhadione

jusT an Ordinary man

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: