Fabienne

Awalnya cuma iseng membaca-baca majalah yang ada di At-Tauhid, mesjid dimana aku tinggal. Aku penasaran dengan judulnya, kenapa ada majalah islam yang mengambil judul “Fabienne” dalam judul artikelnya? Padahal semboyannya “Penyejuk jiwa Penyubur iman”… ternyata setelah aku baca, baru aku mengerti apa ilmu dan pelajaran yang disampaikan melalui cerita itu.
Semoga cerita ini juga bisa membawa kembali saudari-saudariku seiman yang masih berkelut di bidang peragawati, untuk merenungi akan kehidupannya dan mencoba untuk meraih hidayah Allah agar bisa juga merasakan nikmatnya iman. Mari bersama, kita raih kehidupan abadi yang jauh lebih berharga dari pada kehidupan dunia yang semu ini. Akhir kata selamat membaca.
“ Rumah mode ingin menjadikanku Berhala dan
menghancurkan kehormatanku ”
Sebelum itu semua, aku harus kehilangan emosiku terhadap manusia, aku tidak boleh benci, tidak boleh suka dan tidak boleh menolak apapun. Disinilah aku merasa bahwa kehidupan ini menjijikan, hina dan tidak berguna. Aku berseberangan dengan sifat kemanusiaan, dimana kehidupan tersebut lebih dekat pada kehidupan hewan tak berakal.
Rumah-rumah mode telah memanfaatkan diriku sebagai patung bergerak. Tugasnya hanya mempermainkan hati dan pikiran. Sebab disana aku belajar bagaimana menjadi dingin, keras hati, terpedaya dan hampa jiwaku. Aku hanya menjadi kerangka yang mengenakan baju. Aku benda mati yang bisa bergerak dan tersenyum, namun tidak merasakan apa-apa. Bukan aku saja yang dituntut seperti itu. Bahkan semakin mahir dan mencolok seorang model dalam melepaskan sisi kemanusiannya, maka akan semakin tinggi prestasinya didunia yang “dingin” ini.
“Adapun jika aku melanggar satu saja peraturan rumah mode, maka ini berarti menghadapkan diriku pada beragam sanksi, termasuk didalamnya hukuman psikis dan juga tubuh. Aku hidup mengelilingi dunia memperagakan mode-mode busana yang paling baru dengan segala yang ada padanya, berupa mempertontonkan kecantikan, tipuan dan memenuhi ambisi setan dalam menampakkan lekuk tubuh wanita tanpa ada rasa malu dan sungkan!
Aku tidak pernah merasakan indahnya busana pada tubuhku yang hampa selain dari hawa nafsu dan kerasnya hati. Manakala aku merasakan cemoohan para penonton dan ejekan mereka atas kepribadianku serta penghormatan mereka terhadap apa yang aku pakai, sebagaimana saat aku berjalan , berlenggak-lenggok, maka pada setiap ritme gerakanku selalu diiringi kata 'seandainya'.
Setelah masuk islam, aku tahu bahwa kata 'seandainya' membuka peluang perbuatan setan. Hal itu memang benar. Kami dahulu hidup dalam dunia kehinaan, jauh sekali terperosok kedalamnya. Maka celakalah orang yang menjerumuskan diri kedalamnya dan berusaha untuk melakukan hal tersebut.
Perubahanku terjadi ditengah perjalanan kami ke Beirut. Dimana aku melihat penduduk disana membangun hotel dan rumah mereka kembali dibawah kejamnya alat-alat perang. Dengan kedua mataku sendiri aku menyaksikan rumah sakit anak-anak di Beirut. Aku tidak sendiri, tapi bersama teman-temanku dari kalangan 'patung manusia'! Mereka sekedar melihat tanpa bersimpati seperti kebiasaan mereka. Aku tidak mampu bersikap seperti mereka dalam hal ini.
Sungguh, saat itu lenyaplah belenggu popularitas, kemuliaan dan kehidupan semu yang aku alami dari mataku. Serta merta aku menuju ke tubuh anak-anak kecil itu dalam suatu usaha menyelamatkan yang masih hidup dari mereka, dan aku tidak kembali kepada teman-temanku dihotel, dimana ketenaran sedang menungguku. Aku memulai perjalananku menuju kemanusiaan hingga aku sampai pada jalan cahaya, itulah islam, lalu aku meninggalkan Beirut.”
“Aku berada di Afghanistan untuk menjadi tenaga sukarelawan yang akan membantu anak-anak korban perang. Disana aku menjalani kehidupanku yang sebenarnya, belajar menjadi seorang manusia.
Delapan bulan sudah keberadaanku membantu dan melindungi keluarga-keluarga yang menderita akibat peperangan. Aku senang hidup bersama mereka, sehingga mereka pun memperlakukanku dengan baik.
Keyakinanku terhadap islam sebagai agama pedoman hidup semakin bertambah selama menjalaninya dan kehidupanku bersama keluarga Afghan dan Pakistan serta gaya hidup keseharian mereka yang teratur.
Kemudian aku mulai mempelajari bahasa Arab, bahasa Al-Qur'an. Sungguh aku telah memperoleh kemajuan berarti dalam hal itu. Jadi, setelah aku mengadopsi aturan hidupku dan para perancang mode di dunia, kini hidupku berjalan mengikuti prinsip-prinsip islam yang agung.
Aku menghadapi tekanan duniawi bertubi-tubi dari rumah-rumah mode internasional di Beirut. Mereka mengirim tawaran-tawaran kepadaku dengan melipatgandakan bayaran bulananku sampai tiga kali lipat, namun aku menolaknya dengan tegas.
Mereka tidak punya jalan lain kecuali mengirimkan hadiah-hadiah yang mahal untukku agar aku mencabut sikapku dan keluar dari islam. Kemudian mereka berhenti merayuku untuk kembali dan berusaha mencoreng citraku dihadapan keluarga-keluarga Afghan.
Mereka menyebarkan cover-cover majalah yang membuat foto-fotoku dulu ketika berprofesi sebagai peragawati dan menempelkannya dijalan-jalan. Seolah-olah mereka balas dendam karena taubatku dan berupaya menimbulkan ketegangan antara diriku dan keluarga baruku. Tetapi, Alhamdulillah, dugaan mereka salah.
Sungguh aku menyesali hari-hari yang telah berlalu itu, ketika sekarang aku merasakan kehormatan dan kemanusiaan diriku, serta bahwa aku seorang manusia yang mulia lagi terhormat, yang mempunyai kedudukan dan harga diri. Aduhai betapa indahnya Islam, andaikata bangsaku mengetahuinya…

Courtesy Of Mutiara Amaly, Volume ke-45.
Published by AsyhadiOne.BlogSpot.com

About asyhadione

jusT an Ordinary man

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: